0 Items

Ketika sudut kebengkokan tulang skoliosis tidak segera ditangani dampak yang paling ringan bisa terasa adalah keluhan nyeri otot di daerah punggung. Skoliosis yang dibiarkan semakin parah maka jangka panjang skoliosis bisa sampai menimbulkan gangguan pada fungsi paru-paru dan jantung. Tekanan atau desakan terjadi akibat tulang belakang yang mengalami skoliosis. Nah, pendesakan yang berat dan berlangsung lama tentu bisa berakibat fatal.

Hal-hal yang membuat skoliosis memberat antara lain:

  • Skoliosis cenderung memiliki pola kurva tertentu sesuai masing-masing tipenya. Setiap kurva akan membentuk postur dan posisi tulang yang tidak simetris misalnya posisi panggul yang berbeda tinggi antara kanan dan kiri, posisi tubuh yang cenderung kearah samping, dan lain-lain. Perbedaan posisi tulang skoliosis dan posturnya membutuhkan cara yang benar saat melakukan aktivitas agar posisi tersebut dapat menjaga keaadaan kurva tidak bertambah berat. Latihan yang dapat dilakukan adalah melalui bagian tehnik Schroth yang disebut tehnik latihan ADL (Activity Daily Living) yaitu sebuah tehnik untuk menentukan posisi tubuh yang tepat selama aktivitas sehari-hari bagi penderita skoliosis seperti cara duduk, cara berdiri, cara berjalan dan lain-lain.
  • Olah raga yang menggunakan satu sisi tubuh seperti tenis, bulutangkis, golf dan lainnya akan membuat tubuh  tidak melakukan aktivitas secara simetris. Olahraga yang memiliki impact kuat seperti sepak bola, rugby dan lainnya juga memiliki resiko bagi skoliosis. Demikian juga olah raga senam yang mengharuskan gerakan melengkungkan tubuh misalnya yoga, balet, senam lantai berdampak buruk bagi penderita skoliosis. Olah raga yang sesuai dengan kondisi skoliosis adalah olahraga yang memiliki impact ringan dan tidak mempengaruhi kurva misalnya bersepeda statis, jalan diatas treadmill,  dan jogging.
  • Anak-anak, yang bersekolah dengan membawa tas sekolah berat, menghadapi risiko lebih besar terkena nyeri punggung. Demikian hasil penelitian sebuah tim peneliti Spanyol. Temuan tersebut didapat dari hasil penelitian terhadap 1.400 anak sekolah di Galicia Utara, Spanyol. Mereka berusia antara 12 dan 17 tahun. Hasil penelitian tersebut dimuat dalam jurnal Inggris ‘Archives of Disease in Childhood. Semua murid dipecah menjadi empat kelompok berdasarkan berat tas mereka. Siswa yang berada di kelompok dengan tas paling berat memiliki risiko 50 persen lebih tinggi untuk menderita nyeri punggung. Mereka memiliki risiko 42 persen lebih tinggi untuk menderita patologi punggung dibandingkan dengan kelompok siswa dengan tas paling ringan. Berat tas yang aman bagi penderita skoliosis adalah tidak melebihi 10 persen berat tubuh sendiri.
WhatsApp us
X