0 Items

Skoliosis diketahui terjadi karena faktor genetik namun pada sebagian populasi gen skoliosis tetap dorman tetapi sebagian berkembang menjadi skoliosis. Berbagai faktor eksternal seperti nutrisi dan kebiasaan diduga sebagai pendorong ekspresi gen ini.

Otak mengeluarkan dan menerima sinyal dari otot melalui substansi kimia yang kita sebut neurotransmitter. Penyampaian pesan ini dapat dipercepat, diperlambat atau bahkan terhenti jika terjadi kekurangan neurotransmitter.

Studi di Eropa menemukan hubungan antara progresi skoliosis dengan defisiensi hormon dan kurangnya respon otak terhadap hormon/neurotransmitter. Beberapa defisiensi hormon yang sering terjadi di skoliosis antara lain: serotonin, melatonin, calmodulin, leptin dan growth hormone. Normalnya otak akan memberikan sinyal ke otot yang memberi informasi agar otot meluruskan tulang belakang seiring pertumbuhan. Namun pada skoliosis, otak tidak dapat menyadari bahwa posisi badan tidak lurus karena pesan ini terhalang.

Neurotransmitter tersusun dari asam amino dan vitamin B. Oleh karena itu asupan pasien harus menyediakan bahan baku yang cukup untuk memproduksi neurotransmitter yang diperlukan. Kekurangan ini dapat dibantu dengan suplemen.

Salah satu ketidakseimbangan yang sering adalah defisiensi serotonin. Serotonin penting pada tubuh dalam kontrol postural dinamis. Selain itu dalam tubuh serotonin juga diubah menjadi melatonin, yang juga berhubungan erat dengan skoliosis. Penelitian juga mendapatkan bahwa pasien idiopatik skoliosis biasanya memiliki level selenium di bawah normal dan level osteopontin (OPN) yang tinggi, dimana OPN berfungsi mengatur pertumbuhan tulang. Jika pasien yang kekurangan selenium maka level OPN meningkat dan pertumbuhan tulang menjadi abnormal. Dosis terapi selenium yang dianjurkan adalah 200 microgram untuk mengurangi OPN dan menurunkan progresi skoliosis.

Suplemen lain yang dapat dikonsumsi:

  • Suplemen herbal anti peradangan seperti Inflavonoids, yang merupakan campuran jahe, kunyit dan vitamin C
  • Suplemen enzim pencernaan dan probiotik, karena kondisi bakteri usus yang baik mensupport kesehatan tulang dan metabolisme hormon.
  • Omega-3 dalam bentuk EPA-DHA, yang berfungsi untuk mensupport komunikasi antara otak dengan otot dalam mengkoreksi postural
  • Kolagen, yang berfungsi mensupport jaringan ikat yang sehat dalam mempertahankan kekuatan postural
  • Vitamin D3, membantu tubuh menyerap kalsium yang meningkatkan densitas tulang, serta membantu metabolism dan fungsi neurologis.

Dengan mengkoreksi ketidakseimbangan hormonal, kita dapat memperbaiki jalur komunikasi antara otak dan otot, dan mendukung terapi skoliosis yang dilakukan.

Memperbaiki Pola Makan untuk Mensupport Skoliosis

Selain memperbaiki ketidakseimbangan hormonal, orang tua sebaiknya juga memperbaiki pola makan keluarga untuk mensupport anak dan mengurangi progresi skoliosis. Saran pola makan ini baik bagi siapapun, dengan atau tanpa skoliosis.

Memakan makanan yang nutrisinya rendah atau banyak mengandung kimia dan pengawet tambahan dapat menyebabkan defisiensi nutrisi dan peradangan kronis. Peradangan merupakan respon stress yang menyebabkan tubuh melepaskan sitokin, sehingga mengurangi massa tulang. Efek peradangan pada tulang sangat besar, dimana pasien dengan indikator peradangan pada darah yang tinggi lebih berisiko 73% mengalami fraktur panggul. Peradangan juga mengurangi massa otot, dan otot yang lemah mengalami kesulitan mempertahankan tulang belakang dalam posisi yang benar.

Selain itu, banyak makanan yang justru menarik nutrisi yang diperlukan dari otot dan tulang yang sebetulnya dibutuhkan dalam mengurangi skoliosis. Contohnya, garam yang tinggi menyebabkan pengeluaran kalsium berlebih dari ginjal, sedangkan gula dan soda menghambat kemampuan tubuh dalam menyerap kalsium. Alkohol juga menyebabkan massa tulang menurun dan menghambat pembentukan tulang. Kafein dapat menarik kalsium dari tulang, dimana terjadi pengambilan 6 mg kalsium per 100 mg kafein yang dikonsumsi. Pasien juga sebaiknya membatasi konsumsi buah-buahan dan jus citrus termasuk jus tomat, karena asam sitrat yang tinggi menyebabkan tubuh memindahkan kalsium dari tulang ke darah, sehingga struktur tulang melemah.

Mengeliminasi makanan ini dari asupan sehari-hari mungkin terasa sulit, tapi bisa dimulai dengan membaca label makanan agar kita lebih aware dengan apa yang kita konsumsi, kemudian mengganti dengan substitusi yang lebih sehat seperti menggunakan tepung whole-grain daripada tepung terigu biasa, memperbanyak makan buah dan sayur organik, membeli produk organik agar terhindar dari pestisida, karsinogen, dll.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa makanan yang baik dikonsumsi antara lain buah segar, sayur segar dan daging organik. Sedangkan makanan yang sebaiknya dihindari:

  • Daging babi
  • Alkohol
  • Tepung putih, diganti dengan whole grain
  • Soda
  • Kacang kedelai, seperti susu kedelai dan produk turunannya
  • Kopi dan teh, kecuali teh herbal
  • Gula – dapat diganti dengan Stevia atau raw honey
  • Garam – dapat diganti dengan sea salt atau Himalayan salt
  • Coklat – dark chocolate dalam jumlah sedikit diperbolehkan
  • Makanan berminyak dan goreng, terutama fast food
  • Corn syrup
  • Makanan dengan pengawet buatan
  • Pemanis buatan
  • MSG dan zat aditif lain

Nutrisi yang baik sangat penting dalam terapi skoliosis. Keberhasilan koreksi secara jangka panjang bergantung juga pada kemampuan otak dalam mengkoreksi postur tubuh dan mempertahankan otot dalam mengurangi kurva.

WhatsApp us
X