0 Items

Seringkali hal yang ditanyakan kebanyakan pasien skoliosis adalah mengapa dirinya bisa mengalami skoliosis, apakah hal ini diturunkan atau diakibatkan aktivitas yang salah? Pertanyaan ini memang belum dapat dijawab secara memuaskan, karena belum ada satu hal yang dapat dipastikan sebagai penyebab utama skoliosis, sehingga kita sebut sebagai skoliosis idiopatik.

Skoliosis idiopatik adalah kelainan pada tulang belakang yang menyebabkan kelengkungan ke samping dan perputaran pada pasien yang secara umum sehat. 80% pasien skoliosis termasuk dalam kategori idiopatik. Hal ini berbeda dengan jenis skoliosis non-idiopatik yang diketahui langsung penyebabnya, seperti skoliosis kongenital, neuromuscular, atau akibat kecelakaan.

Hingga saat ini skoliosis idiopatik dipercaya terjadi akibat kombinasi berbagai faktor dari genetik, nutrisi, postur, dan lingkungan.  Secara ilmiah, salah satu pendukung hipotesa adanya faktor keturunan dalam skoliosis idiopatik adalah studi di tahun 1934 yang menemukan adanya kasus skoliosis yang diturunkan hingga 5 generasi.

Dari beberapa penelitian ditemukan juga bahwa angka kejadian skoliosis yang diturunkan ternyata cukup berbeda di tiap ras. Menurut Wynne-Davis dan Riseborough, pada kelompok keluarga keturunan Inggris dimana terjadi skoliosis idiopatik sebesar 27% dan keturunan Amerika sebesar 26%, angka terjadinya skoliosis pada kerabat dekat adalah 7 dan 16%. Di Asia pernah dilakukan pengamatan serupa, dan dari studi terhadap 415 pasien skoliosis remaja dengan sudut Cobb > 20°, angka terjadinya skoliosis pada saudara sekandung adalah 18%.

Faktor keturunan juga diduga memiliki peranan terhadap keparahan skoliosis. Salah satu penelitian menyatakan pada kasus pasien skoliosis yang memerlukan terapi brace atau operasi, angka kejadian adanya saudara yang juga memiliki skoliosis lebih tinggi dibandingkan pada pasien skoliosis yang tidak memerlukan terapi. Sehingga dapat dikatakan pada pasien skoliosis yang memiliki faktor keturunan tingkat keparahan umumnya lebih tinggi dibandingkan yang tidak ada faktor keturunan.

Pada kasus pasien kembar, kejadian skoliosis idiopatik juga lebih tinggi pada yang sifatnya monozigot atau kembar identik, dibandingkan yang dizigot atau kembar beda kantung. Hal ini juga menunjukkan adanya peran faktor genetik. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa faktor keturunan bisa berperan dalam terjadinya skoliosis, namun bukan hal yang mutlak sebagai penyebab. Sehingga tidak dapat dipastikan juga apabila pasien memiliki skoliosis apakah anak nya akan mengalami hal serupa. Selain itu apabila pasien mengalami skoliosis dan diketahui ada keluarga yang juga mengalami, maka kemungkinan skoliosis tersebut bersifat lebih progresif dibandingkan dengan pasien yang memiliki skoliosis tanpa ada riwayat keturunan di keluarga.

Berikut Contoh Pasien Kami,

Rontgen pasien kami kakak beradik
laki-laki 17 tahun (kiri) dan Perempuan 16 tahun (kanan)
Rontgen pasien kami kakak beradik
Perempuan 21 tahun (kiri) dan Perempuan 16 tahun (kanan)
WhatsApp us
X