0 Items

Cerita Pasien Skoliosis

H. (19 tahun)

Cerita Pasien Skoliosis

Saat itu adalah tahun 2007 ketika saya pergi ke dokter keluarga kami suatu hari di siang hari untuk menjalani pemeriksaan fisik saya secara umum. Saya telah memerhatikan bahwa punggung saya tidak cukup lurus; namun, saya tidak terlalu memikirkannya secara serius saat ini. Dokter keluarga saya juga memerhatikan punggung saya yang agak bengkok itu dan mereferensikan saya kepada seorang ahli ortopedi untuk memastikan saya tidak menderita masalah punggung yang serius. Saya pergi ke ahli ortopedi itu dengan perasaan yang campur-aduk, yang hasilnya adalah skoliosis dengan kelengkungan 20o. Karena faktanya saya tidak pernah mendengar apa pun tentang skoliosis sampai sekarang, keterkejutan awal saya sangat besar! Apa yang sebenarnya salah dengan punggung saya? Seberapa burukkah itu? Ahli ortopedi saya menyarankan saya menjalani terapi fisik sekali seminggu.

Setelah beberapa waktu, saya pergi menemui ahli ortopedi saya lagi untuk memintanya melihat apa efek dari terapi fisik itu terhadap tulang belakang saya. Dengan percaya diri, saya masuk ke ruangan dokter itu untuk mendengar skoliosis saya memburuk sebanyak 10o. Serangkaian pengobatan atau korset akan sangat diperlukan untuk melawan kemajuan kelengkungan apa pun. Seorang dokter spesialis dalam skoliosis direkomendasikan kepada saya. Saya meninggalkan ahli ortopedi itu dengan menangis. Saya mengira seluruh hidup saya telah hancur dan saya menderita penyakit mengerikan. Penuh ketakutan dan kegelisahan, saya pergi menemui dokter ini. Meskipun ia menyarankan saya menjalani serangkaian pengobatan dan mengenakan korset, tapi setelah berbicara dengan dia saya merasa jauh lebih baik! Ia memiliki sebuah cara yang mengagumkan untuk menasihati saya, menenangkan ketakutan saya, dan memberikan saya keberanian, dan menunjukkan kepada saya bahwa, di satu pihak, skoliosis bukanlah penyakit parah, dan di lain pihak, ada lebih banyak orang yang menderita tingkat kelengkungan seperti itu daripada yang saya pikirkan. Dengan cara empati ini, ia mendapatkan kepercayaan saya. Saya dengan segera merasa ada di tangan yang baik dengan dia dan tahu bahwa ia mengerti kekhawatiran dan kegelisahan saya.

Saya mendapatkan korset saya di tahun yang sama. Itu disebut korset Chêneau light. Para pembuat korset itu juga sangat baik dan pengertian. Mereka dengan segera meyakinkan saya bahwa saya harus menganggap korset ini sebagai penolong saya dan bukan sebagai monster, jadi saya dengan segera “berteman” dengan korset saya, mengenakannya setiap hari selama 20 jam tanpa masalah apa pun. Saya hanya merasakan sakit di hari pertama dan tidak pernah lagi setelah itu. Saya terbiasa dengan korset saya dengan sangat cepat, dan saya tidak mendapati kesulitan tidur di malam hari. Bagi saya malah sebaliknya. Saya malah tidak terbiasa tidur tanpa korset. Tidak ada masalah dengan orang-orang di sekitar saya. Dengan segera, saya menunjukkan korset itu kepada orang lain dengan cukup terbuka, dan dari sejak itu, itu menjadi bagian dari saya, seperti kacamata bagi orang lain. Aspek terburuk dari korset saya adalah rasa panas. Terkadang, ketika bagian atas tubuh saya sekali lagi basah karena keringat, saya akan dengan segera melepaskan korset itu dan melemparkannya. Tapi saya selalu berhasil tetap tekun dan rasional, terus-menerus mengingatkan diri saya bahwa saya sedang melakukan ini untuk diri saya sendiri dan saya tidak ingin menyesalinya nanti akibat saya tidak konsisten. Sikap optimis ini benar-benar penting dalam mencapai kesehatan saya dengan sukses. Berkat dukungan dari keluarga saya, saya dapat memiliki optimisme seperti itu!

Pada musim panas di tahun yang sama (2008), saya pergi mengikuti serangkaian pengobatan lima minggu. Alat gimnastik Schroth yang digunakan di sana, para terapis yang memotivasi, dan semua pasien lainnya membuat saya dan punggung saya menjadi lebih baik! Saya dapat mengenal seorang gadis di klinik itu yang sampai sekarang masih menjadi teman baik saya, tiga tahun kemudian, dan yang masih mengerti saya dengan skoliosis saya lebih baik dari siapapun. Saya juga bertemu beberapa gadis lainnya yang mengenakan korset yang benar-benar besar dan sangat berat. Walaupun benar dikatakan bahwa korset-korset sedikit lebih efektif daripada korset Chêneau light, namun saya mengamati, banyak dari korset ini kebanyakan tergeletak di dalam ruangan, karena mereka membuat sakit punggung yang mengerikan. Karena alasan ini, saya senang saya memiliki sebuah korset dengan desain yang ringan, karena saya dapat mengenakannya 20 jam per hari – seperti yang disarankan – dan karena itu memperoleh efisiensi yang lebih besar.

Setelah pengobatan kesehatan, saya melakukan latihan-latihan saya di rumah setiap hari, dan sekali seminggu dibantu oleh seorang terapis. Selama pemeriksaan, dokter saya berkata bahwa baik korset maupun pengobatan di pusat kebugaran itu telah berkontribusi cukup besar terhadap perbaikan skoliosis saya. Setelah satu kali pemeriksaan lagi, jelas sekali bahwa saya sudah bertambah dewasa dan karena itu perlahan-lahan terbiasa untuk tidak mengenakan korset saya.

Sekarang saya telah berhasil bertahan menghadapi segalanya dan benar-benar bangga dengan keberhasilan saya mengatasi ini dengan luar biasa! Kelainan tulang belakang itu telah menguatkan saya secara mental dan membuat saya lebih yakin.

Akhirnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada dokter saya, para pembuat korset di pabrik itu, keluarga saya, dan korset saya (yang telah saya gantung di kamar saya sebagai sovenir).

Dan saya ingin menyampaikan tips dokter saya kepada semua pasien: Jika Anda tidak membiarkan skoliosis Anda membuat Anda gila, tapi malah menikmati hidup, segalanya tidak terlalu buruk!

Jika Anda tidak membiarkan skoliosis Anda membuat Anda gila, tapi malah menikmati hidup, segalanya tidak terlalu buruk!

Buku I Have Scoliosis (Bahasa Indonesia)

Anda dapat membaca kisah-kisah pasien Skoliosis di buku “I have Skoliosis” dapatkan di toko Buku Gramedia terdekat.

 

WhatsApp us
X