0 Items

Pembengkokan abnormal pada tulang belakang seperti skoliosis dewasa ini sering dihubungkan dengan aktivitas duduk terlalu lama dan bentuk tubuh yang tidak seimbang akibat kurangnya kesadaran akan keseimbangan tubuh. Selain itu skoliosis juga berkaitan dengan faktor genetik, nutrisi, postur yang jelek dan kurangnya berolahraga.

Terapi latihan pada skoliosis sangat beragam, namun secara umum dapat dikategorikan menjadi 2: (1) latihan dan manipulasi spesifik sesuai pola kurva seperti Schroth dan (2) latihan general seperti Pilates, Yoga, fisioterapi, berenang, dll.

Latihan general masih diperdebatkan efektivitasnya karena hingga saat ini hanya sedikit studi ilmiah yang mempelajari hal tersebut. Yoga adalah latihan postural yang memiliki nilai spiritual Hindu yang saat ini cukup popular di masyarakat, termasuk bagi penderita skoliosis. Namun menurut Cochrane, badan terbesar penelitian menyatakan mereka tidak dapat mengevaluasi Yoga karena tidak ada model penelitian yang sesuai.

Latihan general yang popular lainnya adalah Pilates. Pilates dibuat oleh seorang Jerman bernama Joseph H. Pilates, sebagai latihan penguatan otot dengan menggunakan alat bantuan sederhana. Berbeda dengan Yoga yang berfokus pada berbagai peregangan, cara pernafasan dan meditasi; Pilates menggabungkan teori Yoga dengan latihan beban, balet dan olahraga, sambil melakukan teknik pernafasan ilmiah sesuai anatomi modern dan ilmu olahraga. Salah satu studi ilmiah yang kami dapatkan mengenai Pilates yang dilakuan oleh 31 pasien perempuan usia sekolah menunjukkan bahwa setelah Pilates terdapat perbaikan pada kurva Cobb, ruang gerak untuk membungkuk dan rasa nyeri dibandingkan kelompok control yang tidak diterapi.

Lalu apakah ada perbedaan antara latihan general dengan latihan spesifik?

Untuk mengevaluasi keduanya kami mempelajari penelitian yang membandingkan antara Pilates dan terapi Schroth. Penelitian ini dilakuan pada pasien dengan rata-rata usia 15 tahun yang dibagi menjadi grup Schroth dan grup Pilates. Latihan dilakukan 3x seminggu selama 12 minggu.

Setiap sesi Schroth dilakukan selama 60 menit, dengan latihan pernafasan dan jalan 10 menit, peregangan 5 menit, latihan Schroth utama 40 menit dan pendinginan 5 menit. Selain itu pasien juga diajarkan bagaimana mengkoreksi postur dalam kehidupan sehari-hari sesuai kurva skoliosis menurut konsep Schroth.

Sedangkan tiap sesi Pilates dilakukan selama 60 menit, dengan persiapan 10 menit, latihan utama meliputi latihan koreksi spinal, penguatan otot core, dan latihan keseimbangan 40 menit dan pendinginan 5 menit; dengan melakukan latihan pernafasan Pilates.

Hal yang dinilai adalah penurunan sudut Cobb dan perbaikan distribusi berat badan antara sisi cekung dan cembung tulang yang membengkok. Hasil menunjukkan pada kedua grup terdapat perbaikan sudut Cobb, namun pada grup Schroth secara signifikan penurunan lebih besar. Sedangkan distribusi berat badan secara signifikan didapatkan lebih baik hanya pada grup Schroth.

Oleh karena itu dapat disimpulkan Schroth dan Pilates bermanfaat untuk terapi skoliosis, namun jika dibandingkan latihan Schroth lebih efektif daripada Pilates karena Schroth memperbaiki kurva skoliosis secara lebih spesifik dan dapat menyeimbangkan beban kerja otot tubuh. Latihan Schroth dapat dilakukan secara rutin oleh pasien secara mandiri, setelah pasien mengetahui pola kurva dan mempelajari latihan yang sesuai dengan pola kurvanya. Untuk itu periksakan skoliosis Anda dan lakukan terapi Schroth di Spine Clinic dengan menghubungi 0215684770.

Schroth Exercise


WhatsApp us
X