0 Items

Kehamilan seringkali menjadi salah satu kekhawatiran yang dimiliki oleh pasien skoliosis. Banyak pasien yang takut tidak dapat hamil atau kesulitan melahirkan akibat skoliosis yang mereka miliki. Pada dasarnya setiap kehamilan memiliki resiko, baik dengan ataupun tanpa skoliosis. Sebenarnya bagaimana skoliosis mempengaruhi proses kehamilan dan melahirkan? Berikut ini kami akan menjelaskan berbagai pertanyaan yang sering ditanyakan pasien.

Apakah pasien skoliosis dapat hamil dan apa beresiko ke bayi yang dikandung?

Pasien skoliosis seringkali takut tidak dapat hamil, atau takut jika kehamilan akan disertai cacat janin. Namun dari penelitian berpuluh-puluh tahun dibuktikan bahwa kekhawatiran ini tidak benar. Skoliosis jarang sekali menyebabkan komplikasi khusus baik selama kehamilan, melahirkan ataupun pada janin. Skoliosis juga tidak menurunkan kesuburan, meningkatkan resiko keguguran, janin tidak berkembang ataupun kecacatan.

Apakah bayi yang dilahirkan akan memiliki skoliosis juga?

Hingga saat ini penyebab pasti skoliosis idiopatik belum diketahui. Namun kita tau skoliosis terjadi akibat kombinasi berbagai faktor herediter dan lingkungan. Hanya karena anak memiliki gen tertentu tidak pasti akan memiliki skoliosis, namun kemungkinannya memang meningkat. Dari studi penelitian hanya sekitar sepertiga anak dari pasien dengan skoliosis yang mengalami skoliosis. Resiko juga dipengaruhi jenis kelamin anak, dimana perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.

Apakah ada cara yang dapat dilakukan untuk mencegah skoliosis pada calon bayi?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, karena penyebab skoliosis belum dapat dipastikan, tidak ada hal spesifik yang dapat dilakukan. Namun beberapa penelitian menyatakan bahwa paparan terhadap chlorine yang tinggi seperti di kolam renang saat hamil dapat meningkatkan resiko anak skoliosis, begitu pula dengan paparan terhadap logam berat dan merkuri.

Apakah kehamilan beresiko memperparah kurva yang ada?

Berbagai studi menyatakan bahwa asalkan kurva telah berhenti berkembang, maka peningkatan berat badan dari kehamilan biasanya tidak memperparah kurva. Namun tidak dipungkiri, risiko progresi kurva tetap lebih tinggi pada pasien skoliosis yang pernah hamil dibanding yang tidak pernah hamil.

Bagaimana skoliosis mempengaruhi keluhan yang dirasakan ibu hamil?

Untuk keluhan selama kehamilan, pasien skoliosis pada dasarnya mengalami keluhan serupa seperti wanita hamil lainnya. Nyeri punggung atau pinggang dialami oleh hampir semua wanita hamil pada saat tertentu kehamilan. Keluhan ini dapat muncul sejak kehamilan 3 bulan, dan berlanjut hingga 6 bulan setelah melahirkan. Pasien skoliosis yang mengalami nyeri sejak sebelum hamil beresiko lebih tinggi nyeri pinggang lebih berat saat hamil.

Terutama pada trimester ketiga, ibu hamil dengan skoliosis juga harus lebih berhati-hati karena hormon relaksin pada kehamilan menyebabkan ligamen secara alami lebih lentur. Hal ini dapat meningkatkan kurva dan menyebabkan nyeri pinggang, pinggul ataupun kaki. Pada pasien dengan operasi fusi spinal, nyeri pinggang dapat menjadi berkepanjangan hingga setelah hamil.

Sesak nafas juga menjadi keluhan yang sering dirasakan saat hamil akibat peningkatan hormon progesteron yang mempercepat laju dan kedalaman pernafasan. Pada pasien skoliosis, keterbatasan pernafasan mungkin lebih terasa tetapi jarang menjadi masalah yang serius.

WhatsApp us
X